Headlines News :
Home » , » Dikira Kusta, Warga Gunung Geni Hanya Alergi Obat

Dikira Kusta, Warga Gunung Geni Hanya Alergi Obat

Penulis : Wawan Bromo FM
Jumat, 10/02/2017

KRAKSAAN – Noer Aini, warga Dusun Runggeng RT 012 RW 002 Desa Gunung Geni Kecamatan Banyuanyar dikira terkena penyakit kusta, ternyata penyakit Stephen Jhonson (alergi obat) yang disebabkan karena efek samping konsumsi obat epylepsi. Hal tersebut diketahui berkat hasil diagnosa yang dilakukan dr. Sofie Giantari di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Jum’at (10/2/2017).

Gadis berusia 19 tahun tersebut masuk ke rumah sakit dengan diantar oleh Forkopimka Banyuanyar bersama Kepala Puskesmas Banyuanyar sekitar pukul 10.25 WIB. Pendampingan ini dilakukan karena sebelumnya beredar rumor jika Noer Aini tidak periksa ke rumah sakit karena pernah ditolak. Tetapi setelah diklarifikasi kepada keluarganya, Noer Aini tidak pernah periksa ke rumah sakit dan memastikan rumor itu tidak benar.

“Penyakit ini bukan masuk kategori penyakit menular. Kulit pasien berwarna hitam coklat dan hampir mengelupas karena alergi obat. Sebab alergi obat bisa langsung dan bisa juga dalam jangka waktu panjang,” kata dr Sofie.

Setelah menjalani tindakan pertama dan dikunjungi oleh Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan dr. Endang Astuti, sekitar pukul 14.00 WIB pasien dipindahkan ke Paviliun Hasan Aminuddin yang memang diperuntukkan bagi masyarakat miskin(maskin). “Saat ini kondisi sudah membaik,”jelasnya.

Sementara Suhani, nenek Noer Aini mengungkapkan bahwa penyakit ini berawal pada Minggu (29/1/2017) lalu. Dimana cucunya sakit panas dan keluar bintik-bintik merah yang terasa panas. Keesokan harinya, Senin (30/1/2017), gadis yang menjadi yatim sejak usia 15 tahun ini dibawa periksa ke Puskesmas Banyuanyar dan diberi obat panas, obat epylepsi yang biasa diminum dan obat mata.

“Setelah minum obatnya, kulit pasien berubah coklat hitam seperti terkena penyakit cacar air. Semakin lama bintik-bintik hitam ini semakin bertambah besar dab berair,” jelasnya.

Menurut Suhani, selama menjalani pengobatan dengan meminum obat dari Puskesmas Banyuanyar, cucunya yang memiliki KIS (Kartu Indonesia Sehat) ini tidak pernah berobat lagi. Puncaknya, Kamis (9/2/2017), Noer Aini merasa gatal-gatal di sekujur tubuhnya. Jika digaruk maka kulitnya akan mengelupas.

“Akhirnya, Jum’at (10/2/2017) pagi, Noer Aini dibawa berobat kesini didampingi Pak Camat Banyuanyar, Kepala Puskesmas Banyuanyar, Pak Polisi (Kasat Binmas Polres Probolinggo AKP Hendrix K Wardhana, Red) dan Kepala Desa Gunung Geni M. Aly,” terangnya.

Hal senada disampaikan oleh Kasmita, ibu Noer Aini. Menurutnya, Kamis (9/2/2017) malam, anaknya mengeluh badannya panas dan tenggorokannya sakit serta bibirnya pecah-pecah. “Alhamdulillah, dokter dan perawatnya disini baik-baik. Pelayanannya juga sangat bagus. Mulai tadi Noer Aini diperiksa bolak-balik,” ungkapnya.

Menanggapi dengan beredarnya rumor penolakan rumah sakit terhadap anaknya, Kasmita membantahnya. Menurutnya, selama ini sama sekali tidak ada penolakan, karena memang dirinya belum pernah membawa anaknya ke rumah sakit.

“Hanya pada bulan September 2016, dia pernah ikut neneknya berobat ke rumah sakit ini. Saat neneknya berobat, dia juga ikut-ikutan mau berobat. Padahal awalnya tidak ada niat berobat,” jelasnya.

Karena tidak ada niat berobat sebelumnya itulah jelas Kasmita, maka anaknya tidak membawa dokumen kelengkapan, termasuk KTP yang memang masih dalam proses. “Oleh pihak rumah sakit, keluarga disarankan untuk melengkapi administrasinya dulu. Sementara Noer Aini langsung ditangani. Tetapi kami sepakat membawanya pulang karena memang dia sebenarnya tidak sakit. Jadi tidak ada penolakan dari pihak rumah sakit,” tegasnya.

Kepala Desa Gunung Geni M. Aly menyampaikan bahwa selama ini tidak ada penolakan dari rumah sakit maupun puskesmas. Bahkan petugas kesehatan telah memberikan pelayanan yang terbaik sesuai prosesur yang berlaku. Dirinya tahu karena selalu mendampingi keluarga miskin ini setiap kali berobat.

“Berita penolakan oleh rumah sakit itu hanya berita palsu yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan dr. Endang Astuti menyampaikan bahwa sebenarnya pasien tidak menderita penyakit kusta tetapi penyakit kulit yang bisa disembuhkan. Penyakit ini bukan kategori penyakit menular.

“Setelah melihat kondisi pasien saya meminta masyarakat tidak resah karena apapun penyakit yang diderita, kami akan melayani dengan baik. Apalagi masyarakat miskin yang memang disini sudah ada paviliun khusus masyarakat miskin,” katanya. (wan/why)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger