Headlines News :
Home » » Taklukkan Medan Terjal ke Sekolah

Taklukkan Medan Terjal ke Sekolah

Penulis : Dimas Bromo FM
Sabtu, 03 Desember 2016
SUKAPURA – Program wajib belajar 9 tahun di Kabupaten Probolinggo sejauh ini masih  terkendala. Di sejumlah kawasan, terutama di daerah pegunungan, masih banyak bocah-bocah hanya mengenyam pendidikan sampai bangku sekolah dasar.

Akses yang sulit menjadi salah satu kendala utama. Kondisi itu seperti yang terlihat di Dusun Ngelosari dan Dusun Pusung Malang, yang masuk dalam wilayah Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Di dua dusun itu, jumlah remaja yang meneruskan pendidikan ke SMP maupun SMA, masih bisa dihitung dengan jari.

Desa Sapikerep, Kecamatan  Sukapura, sendiri memiliki tiga dusun. Satu dusun paling bawah atau dekat dengan jalan raya Sukapura yaitu Dusun Krajan. Sedangkan dua dusun lainnya, berada di puncak pegunungan. Yaitu, Dusun Ngelosari dan Dusun Pusung Malang.

Akses jalan menuju kedua dusun itu, sangat sulit. Di dua dusun  itu, hanya bisa dilewati kendaraan roda empat jenis hartop maupun kendaraan roda dua.

Di sepanjang jalan, sisi kiri ada tebing yang rawan longsor. Sementara di sisi kanan, terdapat jurang yang cukup dalam. Dari catatan desa setempat, dua dusun itu dihuni sekitar 1.000 jiwa. Sarnadi, 73, salah satu tokoh masyarakat setempat mengaku, ia jadi guru sejak 1959 lalu. Ia pensiun pada 2003 lalu.

Dari pengalamannya itu, dirinya mengetahui soal kondisi pendidikan di tengah masyarakat Dusun Ngelosari dan Dusun Pusung Malang. ”Kalau Dusun Krajan ada di   bawah dan tidak sulit akses jalannya. Jadi, pendidikan masyarakat di sana masih bagus dan tinggi,” katanya.

Sarnadi menjelaskan, dari sekian banyak penduduk di dua dusun tersebut, siswa yang sampai melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA, bisa dihitung dengan jari. Bahkan, dirinya mengetahui betul siswa yang dulu pernah diajar di SDN Sapikerep 3 dan melanjutkan sekolah sampai jenjang SMA, hanya satu orang. Orang itu disebutkan bernama Bambang yang lulus SMA pada 2010 silam.

“Kalau yang melanjutkan sekolah ke SMP sedikit juga, bisa dihitung dengan jari,” ungkapnya dalam bahasa Jawa-Tengger. Disebutkannya, akses jalan yang cukup sulit jadi kendala utama warga. Di Desa Sapikerep sejatinya ada SMP, cuma terletak di Dusun Krajan yang letaknya seketar 1 kilometer dengan medan berat.

Sementara SMA, jaraknya lebih jauh lagi, di dekat Kecamatan Sukapura. Dengan kondisi akses yang sulit, para orang tua pun, disebutkan Sarnadi, kerap khawatir. Bisa-bisa anaknya baru pulang sekolah sore hari sampai di rumah. Sebab, rata-rata siswa jalan kaki.

”Kalau sudah musim hujan, juga sangat bahaya kondisi jalannya. Baik jalan kaki maupun naik motor. Sebenarnya, orang tua di  sini ingin anaknya sekolah. Tapi, karena masalah akses jalan sulit, membuat anak mereka malas dan orang tua takut. Kalau soal perekonomian, sebenarnya warga sini sudah cukup,” jelasnya.

Hal senada diungkapkan Wage Hariatna, 31. Ibu dari siswa kelas 6, Dina Oktavia Ragil itu mengungkapkan, akses jalan sulit menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua. Sebab, anak-anaknya yang masih kecil tidak bisa ke sekolah naik motor karena berbahaya. Sedangkan jarak tempuh dari  rumahnya ke SMP atau SMA  sangat jauh.

”Kalau ada SMP satu atap di sini, juga lebih baik. Pasti kami sekolahkan anak kami  di SMP satu atap itu,” akunya.

Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, Jum’at (02/12/2016) berkunjung ke SDN Sapikerep  3 mengaku, akses di jalan desa setempat memang masih tak layak.

Pihaknya berjanji infrastruktur di wilayah setempat akan segera diperbaiki dalam waktu dekat ini. Ia menargetkan, pembangunan jalan itu bisa direalisasikan tahun depan. Dengan kondisi akses yang baik, ia optimistis pendidikan sekolah setempat bakal  meningkat ke depannya.

“Tanpa diminta pun, terkait infrastruktur jalan akan segera ditindaklanjuti. Keterangan kepala desa kurang lebih jalan sepanjang 4-5 kilometer (yang  rusak parah). Meski tidak semua,  nanti dicicil, bagian tertentu diutamakan,” janjinya.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Probolinggo Tutug Edi Utomo menambahkan, dua dusun itu bukan dusun terbelakang. “Buktinya, semangat belajar  warga cukup tinggi. Hanya terkendala di akses jalan,” ujarnya.

Soal keluhan sejumlah warga, Tutug menyebut sudah dijawab bupati. “Nanti kami tindak lanjuti dan pertimbangkan untuk dirikan SMP satu atap,” jelasnya. (maz/ast)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger