Headlines News :
Home » » Setor Tiap Terkumpul Rp 50 Juta

Setor Tiap Terkumpul Rp 50 Juta

Penulis : Dimaz Bromo FM
Jum'at, 09 Desember 2016

KRAKSAAN – Sidang pembunuhan eks dua sultan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, Ismail Hidayah dan Abdul Gani kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN)  Kraksaan, Kamis (08/12/2016). Dalam sidang itu, para istri korban dihadirkan  sebagai saksi.

Untuk sidang Ismail Hidayah, jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan Bibi Resemjan, istri korban Ismail. Ia memberi kesaksian terkait kasus yang menjerat lima terdakwa. Yakni, Mishal Budianto alias Sahal, Wahyu Wijaya,  Suari, Achmad Suryono, dan Tukijan.

Dalam kesaksiannya, Bibi mengaku ia terakhir bertemu dengan suaminya, 2 Februari 2015 sekitar pukul 18.00. Saat  itu, korban Ismail disebutkan pamit hendak ke masjid untuk salat berjamaah. Masjid itu hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya di Panarukan, Kabupaten Situbondo. Setelah pamitan itu, Bibi mengaku tidak melihat kembali suaminya.

“Saya sempat cek ke masjid  pukul 21.00. Tapi, ternyata tidak ada,” ujar Bibi dalam persidangan. Selang beberapa waktu kemudian, dikatakan Bibi, dirinya mendapatkan kabar soal penemuan mayat di Desa Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.

Beberapa hari setelah penemuan mayat itu, dirinya berniat melihat kepastian penemuan mayat tersebut  di kamar mayat RSUD Waluyo Jati  Kraksaan. Namun, mayat suaminya sudah dikuburkan oleh pihak rumah  sakit.

“Saya waktu itu masih ragu karena belum lihat langsung kondisi jenazah dari penemuan mayat itu. Dari foto, tidak jelas. Sebab, wajahnya sudah tidak jelas. Cuma sempat mengenali dari baju dan jenggotnya,” katanya.

Hingga akhirnya, 2 Juli 2016  dilakukan tes DNA dan dilakukan otopsi pada mayat yang telah dikubur di belakang RSUD tersebut. ”Saya yakin itu suami saya. Itu, setelah melihat dari sidik jari dan tes DNA,” paparnya.

Bibi mengungkapkan, suaminya mulai gabung di Padepokan pada tahun 2009 silam. Suaminya tertarik dengan penarikan sejumlah barang gaib. Awalnya, Ismail jadi pengikut. Lambat laun, suaminya lantas memiliki “santri” sendiri dan naik menjadi koordinator. Hingga  akhirnya Ismail didaulat menjadi Sultan Agung di Padepokan.

Aktivitas suaminya disebutkan Bibi, mengumpulkan dana mahar dari para pengikut untuk diserahkan pada padepokan. ”Suami saya, punya 3.600 santri. Bila sudah mengumpulkan mahar, otomatis jadi santri. Mahar kalau sudah terkumpul Rp 50 juta di suami saya, baru disetor ke padepokan,” ungkapnya.

Dibeberkan Bibi, suaminya sejatinya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan padepokan. “Suami saya ingin keluar dari padepokan. Sebab, merasa apa yang ada di padepokan itu semuanya tidak ada yang benar,” tambahnya.

Penasehat Hukum (PH) terdakwa M Soleh sempat menanyakan terkait ancaman dari  para terdakwa pada Ismail. Saat itu, Bibi mengaku tidak pernah ada ancaman dari kelima terdakwa tersebut. Bahkan, saat sejumlah terdakwa sempat ke rumah Ismail, disebutkan tidak dalam kondisi marah atau mengancam.

Hanya saja, sebelum Ismail ditemukan tewas, ia dapat ancaman pada Desember 2014.  Saat itu, Ismail diminta pidato oleh terdakwa Wahyudi. Nah, saat pidato itu, Ismail minta pencairan duit padepokan untuk pengikut disegerakan.

“Saya dengar dari santri lain,  kalau suami saya diancam akan  dibunuh. Toko dan mobil akan dibakar. Jadi, saat pulang suami saya dikawal oleh santrinya,” ungkapnya. Ditanya adakah ancaman dari  orang lain? Bibi mengaku ada pengikut berinisial Jn pernah minta uang Rp 50 juta pada suaminya untuk ke Malaysia.

Bahkan, saat itu Jn disebutkan Bibi sempat mengancam akan menculik anaknya jika tidak memberi duit. Ancaman itu via telepon. ”Tapi, suami saya tidak memberi uang itu,” ujarnya. Muhammad Saleh, selaku penasihat hukum kelima terdakwa mengatakan, keterangan bibi sangat bagus dan konsisten.

Saksi juga mengakui korban Ismail memiliki santri 3.600 orang. Termasuk adanya ancaman dari Jn yang meminta uang Rp 50 juta dan mengancam menculik anak korban Ismail.

“Saksi juga  menyebutkan ada AS sampai melaporkan Ismail ke Polsek. Berarti ini membuka peluang, pelaku pembunuhan itu di luar kelima terdakwa ini. Anehnya lagi, Jn dan AS itu tidak ada dalam BAP (berita acara pemeriksaan) dan tidak pernah diperiksa,” katanya. (maz/ast)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger