Headlines News :
Home » » Goa Kucing, Jejak Sejarah Pulau Terluar

Goa Kucing, Jejak Sejarah Pulau Terluar

Penulis : Wawan Bromo FM
Senin, 12   Desember 2016

SUMBERASIH – Pulau Gili Ketapang merupakan satu-satunya pulau yang dimiliki Kabupaten Probolinggo. Potensi wisata Pulau Gili Ketapang sangat mengagumkan. Tidak hanya wisata alam, wisata sejarah juga menjadi daya tarik pulau berpenduduk 9.670 jiwa ini.

Gili menjadi pulau dengan potensi wisata yang cukup menawan. Salah satu yang menjadi daya tarik tersendiri adalah wisata religi Goa Kucing. Konon, goa kucing merupakan salah satu petilasan Syeh Maulana Ishaq atau Sunan Giri. Salah satu ulama Wali Songo yang terkenal kemasyuharannya.

Abdul Bahri, juru kunci Goa Kucing mengatakan, awal mula adanya goa kucing dari kakeknya. “Dulu kakek senang memancing. Saat memancing, dia melihat seberkas cahaya di lokasi yang kini menjadi goa kucing,” terangnya. Tidak hanya sekali, sang kakek bahkan melihat sampai tiga kali.

Sampai akhirnya, sang kakek bermimpi ada sosok bersurban putih yang diyakini adalah putra Syeh Jumadil Qubro itu. Sejak saat itulah, tempat cahaya itu kemudian dikeramatkan. Salah satu tanda yang diyakini jika tempat itu pernah disinggahi Syeh Maulana Ishaq yakni keberadaan pohon Santiki. Kayu serupa juga ditemukan di Situbondo yang juga diceritakan menjadi petilasan sang ulama.

Menurut cerita, Syeh Maulana Ishaq kala itu menyebarkan agama Islam. Dalam perjalananya dari Gresik menuju Blambangan Kabupaten Banyuwangi, Syeh Maulana Ishaq singgah di Gili. Di Gili, adik Maulana Malik Asmaraqandi (Sunan Gresik) memelihara ribuan ekor kucing. Bahkan, terdapat kucing yang kepalanya bertuliskan bahasa Arab.

Ketika tokoh penyebar agama Islam tersebut meninggalkan pulau ini, kucing-kucing itu ditinggalkan begitu saja sehingga hilang tidak tentu arah. Tetapi anehnya, setiap malam Jum’at Legi,  suara kucing-kucing itu terdengar bergantian disela-sela goa yang gelap gulita. Jika suara tadi dikejar, hilang tidak terdengar lagi.

Kepala Desa Gili Ketapang Suparyono mengatakan, kucing-kucing yang ada di goa tersebut konon berbeda dengan kucing pada umumnya. “Kalau kucing liar pasti lari ketika ketemu dengan orang, tapi kucing ini seperti menunggu,” katanya. Sayangnya, seolah-olah kucing-kucing ini fatamorgana. Ketika didatangi, kucing tersebut tidak ada.

Seiring berjalannya waktu, kekeramatan Goa Kucing semakin dikenal di masyarakat. Setiap malam Jum’at Legi selalu diadakan acara doa bersama. Bahkan saat malam Jum’at Legi, pengunjung yang datang bisa mencapai 500 orang. “Banyak yang datang kesini untuk ngalap berkah,” katanya.

Tidak hanya daerah di Jawa Timur seperti Kota Probolinggo, Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Jember sampai Kabupaten Situbondo. Banyak juga pengunjung dari luar Jawa Timur, salah satunya Jakarta. (wan/ast)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger