Headlines News :
Home » » Evaluasi Bimtek Budidaya Tembakau Paiton dan Jawa

Evaluasi Bimtek Budidaya Tembakau Paiton dan Jawa


Penulis : Wawan Bromo FM
Kamis, 15 Desember 2016
PAITON – Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo, Rabu (14/12/2016) mengadakan pertemuan teknis evaluasi bimbingan teknis (bimtek) budidaya Paiton dan Jawa di BPP Paiton.

Kegiatan ini diikuti oleh 140 orang peserta terdiri dari APTI Kabupaten Probolinggo, UPTD/petugas perkebunan, penyuluh pertanian serta petani tembakau kecamatan potensi. Narasumber berasal dari Balai Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang.

Kepala Disbunhut Kabupaten Proboling Raharjo melalui Kasi Produksi Evi Rosellawati mengatakan kegiatan ini digelar dengan tujuan untuk memberikan informasi, pengetahuan dan wawasan tentang evaluasi budidaya tembakau 2016. Serta dampak perubahan iklim terhadap pertumbuhan tembakau. “Dengan kegiatan ini diharapkan petani tembakau agar lebih paham tentang budidaya sesuai GAP,” katanya.

Menurut Evi, tembakau di Kabupaten Probolinggo telah berkembang sejak puluhan tahun. Dimana varietas potensial (produksi dan mutu tinggi) meliputi tembakau Paiton, Jawa dan Kasturi.

“Tembakau Paiton dibudidayakan dengan tingkat teknologi budidaya relatif beragam. Keragaman teknologi ini selain karena keterbatasan (modal dan pengetahuan) petani juga karena karakteristik lahan dan agroklimat wilayah, sehingga banyak dikenal kekhasan dari tembakau Paiton itu sendiri,” jelasnya.

Evi menambahkan tipe dan mutu tembakau yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh karakteristik tanah, terutama sekali tekstur perakaran (top-soil) dan bawah permukaan tanah (sub-soil).

“Tanah ringan cenderung menghasilkan daun tipis dan besar, bobot ringan dan warna cerah, rasa lembut dan aroma harum. Sedangkan daun yang diproduksi pada tanah berat, tebal berwarna gelap, berbau kuat dan aromatik,” tegasnya.

Lebih lanjut Evi menegaskan persyaratan karakteristik yang sesuai untuk produksi tembakau Paiton 1 dan Paiton 2 yang bermutu tinggi meliputi memiliki tanah permukaan dengan kedalaman 25 sampai 30 cm, reaksi tanah berkisar 5,5-6,5, sub soils bertekstur liat berpasir sampai kedalaman >150 cm dan simpanan hara tanaman esensial rendah sampai sedang.

“Serta kadar bahan organik tanah rendah dan kadar Chloride (Cl) tanah sangat rendah (<80 ppm) dan Cl air pengairan <25 ppm. Akibat cara pemupukan yang tidak berimbang dan pengolahan lahan yang kurang tepat maka karakteristik tersebut sulit ditemui di lapangan,” pungkasnya. (wan/ast)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger