Headlines News :
Home » » Pengikut Dimas Kanjeng Tewas dengan Kemaluan Terikat Karet

Pengikut Dimas Kanjeng Tewas dengan Kemaluan Terikat Karet

Penulis : Dimas Bromo FM
Minggu, 30 Oktober 2016
PAJARAKAN – Jumlah pengikut Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang meninggal dengan cara tidak wajar, bertambah. Jumat (28/10/2016), Juniarti, 60, warga Kabupaten Bondowoso melapor ke Mapolres Probolinggo atas  kematian IS, 65, suaminya.

IS meninggal dengan ciri-ciri yang sama dengan 3 pengikut lainnya, yakni kuku menghitam. Junarti datang bersama keluarganya ke Mapolres dan langsung ditemui Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin. Juniarti kemudian menyampaikan kronologis meninggalnya sang suami.

Juniarti juga menyerahkan sejumlah benda dari Taat Pribadi. Seperti minyak, sejumlah uang (mata uang Indonesia dan Turki), dapur ATM, jimat serta foto-foto Taat Pribadi. Menurut Juniarti, IS meninggal 13 September silam, atau sepekan sebelum penggrebekan dan penangkapan terhadap Taat  Pribadi.

Laporan ini menambah daftar panjang pengikut yang meninggal dengan cara tidak wajar. Sebelumnya, laporan serupa juga dibuat keluarga Kasianto asal Surabaya; Najemiah Muin asal Makassar; dan I asal Kabupaten Probolinggo.

Juniarti  mengaku dulunya bertugas sebagai juru masak di padepokan. Ia dan suaminya juga menjadi pengikut, tepatnya sejak 2012 silam. Karena itu, Juniarti ditugaskan menjadi juru masak. Sama seperti pengikut lainnya, Juniarti dan suami juga setor mahar.

”Saya juga memberikan uang mahar Rp 1,5 juta ke Taat Pribadi,” katanya. Pada malam sebelum meninggal, IS dan Juniarti yang tinggal di tenda hendak bergantian mengambil wudhu.

“Waktu  itu, saya dan suami berada di dalam tenda Padepokan. Tengah malam, suami saya keluar tenda untuk wudhu. Setelah suami saya balik, saya keluar untuk ambil  wudhu. Pas balik ke tenda, suami saya terlentang di tenda. Awalnya saya pikir tidur, ternyata sudah meninggal,” terangnya.

Saat itu, kondisi kuku suaminya menghitam dan alat kelaminnya diikat karet pentil. Semula, Juniarti menganggap sang suami  hanya tidur. Namun, belakangan ia tahu kalau IS sudah meninggal. Karena kematian mendadak disertai sejumlah kejanggalan itulah, Juniarti menduga jika suaminya dibunuh.

Namun, karena tidak bisa berbuat banyak, jenazah langsung dibawa pulang ke Bondowoso dan dimakamkan disana. Sejak saat itu, Juniarti tak kembali ke padepokan. Awalnya, Juniarti  tidak ada rencana melaporkan  kejadian itu ke polisi. Namun,  atas saran keluarga dan kerabat,  akhirnya memutuskan untuk  melapor ke polisi.

Sementara Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin mengatakan, dengan adanya keluarga korban IS yang melapor ke polisi, pihaknya menemukan titik terang untuk mengusut kasus pembunuhan baru yang menimpa pengikut padepokan. Serta menyelidiki lebih lanjut, adanya sejumlah kuburan yang diduga menjadi korban pembunuhan.

“Nanti kami selidiki lebih lanjut. Tidak menutup kemungkinan, kami juga akan membongkar kuburan korban IS yang diduga  meninggal secara tidak wajar,” katanya. (maz/ast)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger