Headlines News :
Home » , » Sebagai Mitra Perempuan

Sebagai Mitra Perempuan

Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 4/06/2016 


PAITON – Seorang bidan bertugas sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasihat selama masa hamil, persalinan dan nifas. Selain itu, memfasilitasi, memimpin persalinan dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir.

Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak serta melaksanakan pertolongan pertama tindakan kegawatdaruratan.

Hal tersebut disampaikan Bidan Desa Sidodadi, Kecamatan Paiton, Yuliantini. “Saya termotivasi menjadi bidan karena bidan wanita hebat dan mulia tugasnya. Dari bantuan tangan-tangan seorang bidan telah lahir para generasi yang akan membanggakan orangtua, agama, bangsa dan negara kita Indonesia,” katanya.

Bidan kelahiran Situbondo, 3 Nopember 1972 ini menyampaikan, untuk menjadi bidan yang sukses kuncinya, punya niat, ikhlas, sabar, sering membaca dan pastinya yakin Allah Maha Segalanya.

“Semoga ke depan bidan tetap semangat dalam bekerja di tengah-tengah masyarakat, masyarakat bersahabat dengan bidan, tercapai tujuan utama bidan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” jelasnya.

Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Sandi (Almarhum) dan Sukasih ini berpesan,  agar masyarakat bersama-sama mewujudkan hidup sehat dan jangan takut dan malu untuk berbagi dengan bidan.

“Sampaikan keluhan dalam keluarga, sampaikan permasalahan di lingkungan. Dan mari kita musyawarah bersama untuk memecahkan permasalahan sehingga mendapatkan solusi terbaik dari hasil musyawarah yang disepakati bersama,” terangnya.

Istri Moh. Sukaryanto ini mengaku, banyak suka dan duka yang dialaminya. Sukanya bila membantu proses persalinan tidak berisiko sehingga lahir dengan lancar tanpa ada komplikasi, sehat ibu dan bayinya. Betapa senangnya sehingga rasa kantuk dan capek tidak dirasa.

“Dukanya, jika ada ibu hamil yang berisiko yang membahayakan ibu atau bayinya dan harus dirujuk tapi ibu dan keluarga menolak. Ini yang membuat bidan khawatir dan serba salah,” tegasnya.

Bidan asal Situbondo ini menyampaikan, ada pengalaman paling berkesan waktu ia bertugas di Desa Ranuwurung, Kecamatan Gading tahun 1995. Di mana saat tengah malam dipanggil ke Desa Racek, Kecamatan Tiris karena ada perempuan yang melahirkan ke dukun dan ari-ari (placenta)-nya belum lepas sedang bayi sudah lahir 1 jam setelah ditolong dukun.

Begitu sampai rumah yang dituju, sang ibu mulai lemah tensinya, 90/60 dan nadinya 96. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya penerangan dari lampu listrik, hanya lampu oblik.

“Saya langsung bertindak, bayi dibungkus atau dihangatkan, ibu dipasang infus di lengan kanan dan kiri. Secepatnya kami minta tolong warga untuk membawa sang ibu ke RSUD Waluyo Jati,” ujarnya.

Ternyata proses evakuasi sang ibu tidak mudah karena harus ditandu dengan kursi dengan digotong sejumlah pria yang berjalan kaki sekitar dua jam menuju Puskesmas Condong. “Sesampai di Puskesmas Condong langsung dipindah ke ambulans menuju RSUD Waluyo Jati. Selama perjalanan infus habis 8 flesh. Alhamdulillah ibu tertangani dan selamat,” pungkasnya. (wan/ast)
Share this post :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger