Headlines News :
Home » » Patung Raksasa Dewi Sri (Dewi Padi) jadi perbincangan MUI dan Masyarakat

Patung Raksasa Dewi Sri (Dewi Padi) jadi perbincangan MUI dan Masyarakat


BROMO FM : Jum'at 19/04/13. Lokasi Kantor MUI (GIC) Kraksan. Pukul 10.00 Wib


Kraksaan : Majelis Ulama Indonesi (MUI) kabupaten Probolinggo menggelar rapat tertutup di kantor MUI Gedung Islamic Centre kraksaan, yaitu mengexpos tentang patung Dewi Sri (Dewi padi) yang berjenis raksasa yang di buat oleh salah satu warga dari desa ganting wetan kecamatan Maron kabupaten Probolinggo yang bernama Nur slamet atau

orang-orang menyebutnya (Kyai Bintaos), patung tersebut di dirikan di sebuah pesawahan tepatnya di desa ganting kulon kecamatan Maron kabupaten Probolinggo, pembuatan patung tersebut dengan alasan dari Nur slamet yaitu membuat patung itu tujuannya hanya mengenang istrinya, namun hal itu di bantah oleh MUI karna alasan yang tidak wajar.
          Dari rapat yang di gelar MUI tersebut di hadiri oleh ketua MUI kabupaten probolinggo yakni dari MUI kecamatan kraksaan dan kecamatan Maron, dari MUI kec. Kraksan, KH. Munir kholili (Ketua)- KH. Sihabudin sholeh - H. Banawir (wakil ketua) - H. Yasin (sekretaris) dan anggota lainnya, sedangkan MUI dari maron yaitu KH. Bahrul ulum, dan hadir pula MUSPIKA kecamatan maron serta dari MWC NU dan PCNU kraksaan. Atas berdirinya patung tersebut menjadi perbincangan MUI dan publik khususnya di wilayah kabupaten probolinggo, dalam isi rapat yang di gelar tentu saja dari berbagai tokoh masyarakat dan ulama' di kabupaten probolinggo tidak menyetujui adanya patung yang di buat oleh  Nur slamet itu, hingga sampai saat ini menjadi pembahasan oleh MUI kabupaten probolinggo.


           Menurut isi dari rapat MUI itu, bahwa dari perbuatan tersebut ada pasal yang menyebutkan  dalam pasal 48 menerangkan hak asasi manusia, ada seni dan sebagainya, dalam pasal C ayat 2 setiap bertindak pada alasan dan memenuhi pertimbangan yang adil, yang sesuai UUD No 9 tahun 1998 yaitu        menjaga hak kebebasan orang lain dan mengindahkan kemanusiaan dan ke agamaan.

         Akan tetapi jangan bertindak gegabah harus dengan proses secara halus untuk membongkar patung itu, yang jelas itu semua melanggar UUD, kalau memang ada dasar kesengajaan atas pembuatan patung itu maka bisa di pidana, ungkap isi rapat tersebut.

            H.yasin (sekretaris) MUI kabupaten probolinggo mengatakan saat di wawancarai Reporter Bromo fm, " MUI sangat keberatan mengingat di daerah maron mayoritas beragama islam,mengingat patung raksasa itu bahwa dalam syare'at agama islam itu di haramkan hukumnya,dengan alasan karna islam menjag ummat, biar tidak terpengaruh kepada berhala, dan kondisi itu tidak patut karna bukan tempat wisata," ungkapnya.

           M. yasin (Camat) maron menambahkan kepada Reporter Bromo fm, " sebetulnya kalau saya pribadi tidak ingin masalah ini terus berlarut, saya ingin apa yang terjadi cepat terselesaikan, dan apa yang di perbuat oleh Nur slamet itu memeng salah, karna itu adalah bukan hal yang wajar, intinya kita harus mengikuti kajian  dari ulama', tapi dalam waktu dekat ini saya akan hadir ke yang bersangkutan (Nur slamet) untuk membicarakan hal ini dengan cara kekeluargaan, dalam waktu singkat harus terselesaikan karna ini sudah menjadi perbincangan masyarakat dan ulama'', imbuhnya. (Dc)


Reporter : Dicko
Dok       :  19 April 2013
Share this post :

+ komentar + 5 komentar

24 April 2013 07.51

it ok....eman dong tu untuk mengenang sang istri..toh MUI ada aja...sukanya membatasi orang INGAT INDONESIA BINEKATUNGGAL IKA..BUKAN NEGARA ISLAM BROWW

11 Mei 2013 18.41

Bukannya saya membela siapa2 ya. Ini cuma pendapat saya. Siapapun boleh menyanggah ato mungkin tidak setuju. Begini, saya melihat keberadaan patung itu tidak digunakan untuk ritual pemujaan tertentu yang dilarang oleh agama islam. Kan tidak ada benda2 yang diletakkan sebagai sesajen. Atau benda2 lain yang bernuansa musyrik. Saya rasa memang bukan untuk begitu. Dan, pembuat patung tersebut hanya bermaksud untuk mengenang istrinya saja. So, positive thinking saja lah. Ini kan sama saja kalo kita membangun suatu monumen peringatan seperti patung proklamator, patung jendral sudirman dsb. Mungkin bagi si pembuat patung, istrinya adalah sosok yang sangat penting dan layak dikenangnya layaknya pahlawan bagi dia. Mungkin juga si istri bagaikan dewi sri baginya. Memberikan apa2 yang diinginkan sebagai dewi dalam rumah tangga mereka. Thats all. Itu kan cuma mitologi budaya yang dia sukai saja, kebetulan sosoknya dewi sri. Mungkin bisa juga dewi2 yang lain. Dan untungnya bukan sosok wonder woman lho. Jadi, kita hargai saja hasil karyanya. Ini kan negara yang Bhinneka tunggal ika. Dia punya hak asasi kok. Andai saja diberi akses jalan yang memadai, bisa saja jadi ikon atau landmark wilayah itu. Ujung2nya warga sekitar yang ketiban rezeki. Itu saja pendapat saya.

18 Mei 2013 03.43

permasalahannya, patung itu apa akan merusak aqidah atau tidak, hanya itu saja, lain-lain saya kira tidak masalah

31 Mei 2013 04.03

Alhmdulilah...

22 September 2014 00.32

Gambarnya kaga keliahatan sob.
Btw, memang hak asasi manusia juga perlu ditegakkan.
Kenapa engga ntu patung ada di rumah sang pembuatnya aza, kalau emang buat mengenang istrinya.

Tanaman Hias

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger