Headlines News :
Powered by Blogger.

Bagian Kominfo Kab. Probolinggo

Produksi Udang Capai 3 Ribu Ton

Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 28/08/2016

KRAKSAAN – Budidaya udang di Kabupaten Probolinggo memanfaatkan tambak potensial seluas  total 1.997 hektar. Tambak seluas itu tersebar di tujuh kecamatan pesisir pantai mulai Tongas hingga Paiton.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Probolinggo, Dedy Isfandi. Menurutnya, hingga akhir semester I tahun 2016, produksi udang di Kabupaten Probolinggo mencapai 3.336,7 ton atau 78,17% dari target sebesar 4.268,6 ton.

“Saat ini udang menjadi primadona utama komoditas budidaya perikanan setelah beberapa tahun terpuruk akibat masalah penyakit pada udang windu,” katanya.

Menurut Dedy, sejak tahun 2001 komoditas udang windu berganti pada udang vannamei. Mulai saat itu kegiatan udang sudah mulai bangkit. “Puncaknya pada tiga tahun terakhir, perkembangan produksi udang terus meningkat dan rata-rata naik 1.000 ton per tahun,”jelasnya.

Dedy menambahkan produksi udang dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2015 produksinya mencapai 4.753,66 ton dari target 3.334,9 ton. Total produksi budidaya untuk 10 komoditas utama budidaya perikanan mencapai 8.084 ton. Artinya lebih dari separonya didominasi hasil produksi udang.

“Sebagian besar diperoleh dari budidaya lahan tambak intensif yang luasnya mencapai 500 hektar. Di mana luas tambak ini memberikan kontribusi 90% dari total produksi udang di Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya. (wan/ast)

Lahan Bawah Tegakan Ditanami Kopi Arabika

Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 28/08/2016

KRAKSAAN – Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Probolinggo terus berupaya membuat terobosan agar bisa meningkatkan produksi kopi dengan memanfaatkan lahan di bawah tegakan. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan lahan milik Perhutani dengan mengajak peran serta dari anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Kepala Disbunhut Kabupaten Probolinggo Raharjo melalui Kepala Bidang Kehutanan Heriyanto mengungkapkan bahwa pihaknya memiliki anggota LMDH yang telah menanam kopi Arabika tahun 2015 dan pengembangan tahun 2016.

“Areal lahan milik Perhutani yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman kopi Arabika mencapai 1.034,2 hektar. Tetapi realisasinya tahun 2015 lalu baru 97,45 hektar. Untuk tahun 2016 ini akan dilakukan pengembangan dengan didanai oleh APBD,” katanya.

Menurut Heriyanto, karena tingkat modal petani rendah maka Pemerintah Daerah akan memberikan bantuan berupa pupuk, bibit, biaya lubang tanam dan penanaman. Dimana tahun ini tanaman kopi Arabika akan ditanam di lahan seluas 100 hektar di Kecamatan Sumber memanfaatkan lahan bawah tegakan. Meliputi, 35 hektar di Desa Tukul, 35 hektar di Desa Cepoko dan 30 hektar di Desa Pandansari.

“Untuk bibit kopi kami dapatkan dari Dinas Perkebunan Jawa Timur. Kita sinergikan di lahan milik Perhutani. Sebab di Kecamatan Sumber ini tanaman semusim. Padahal tanaman naungannya harus ditanam dulu. Karena kopi Arabika 50% harus dibawah naungan,” jelasnya.

Heriyanto menambahkan bahwa juga ada bantuan 400 ribu bibit kopi Arabika dari APBD Jatim. Nantinya juga akan dikembangkan di lahan bawah tegakan. Dengan asumsi 1000 bibit per hektar, maka akan tertanami 400 hektar.

“Dari kerja sama ini baik LMDH dan Perhutani sama-sama diuntungkan. Dimana 70% hasil produksi untuk LMDH dan 30% untuk Perhutani. Petani juga bisa bekerja dengan menjadi tukang deres getah pinus untuk diserahkan kepada Perhutani tiap 10 hari dan akan mendapatkan ongkos,” pungkasnya. (wan/ast)

Jadi Sahabat Siswa

Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 28/08/2016

KURIPAN – Medan berat dan jalan berlubang tidak menyurutkan langkah Maulidiyah Anis Anjayani, guru honorer SMPN 3 Satu Atap Kuripan untuk mengabdikan diri. Selama lima tahun (2011-2016) wanita kelahiran Bondowoso, 10 Desember 1987 ini bertugas di SMP yang berada di Desa Wonoasri, Kecamatan Kuripan yang berbatasan dengan Kabupaten Lumajang.

Meski, melalui jalan makadam yang terjal, wanita yang hobi memasak ini tetap semangat menyampaikan ilmu pada siswanya. Status honorer tidak menjadikannya sebagai hambatan untuk mengajar.

Baginya, mengajar merupakan tanggung jawab sosial yang harus dilakukan penuh semangat dan tanpa pamrih. “Bagi saya semua akan tiba pada saatnya,” ujarnya.

Meskipun hanya mendapatkan honor minim dari dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda), namun bukan itu tujuan wanita yang dikaruiani satu anak ini. Tujuan mulianya ingin mengangkat derajat siswa-siswi Desa Wonoasri. Dari yang tidak bisa baca menjadi bisa. Dari yang hanya tamatan SD menjadi SMP bahkan kalau bisa nanti lulus S-1.

“Dan yang paling penting memberi pemahaman tentang perkawinan usia dini. Sebab, disini banyak yang sudah menikah di usia dini,” terangnya.

Menurut istri M Muslih ini, perkawinan usia dini memang marak di desa tersebut. Bahkan ada siswa yang pernah menikah siri. Tetapi karena pernikahannya kandas (diceraikan), ia kemudian bersekolah lagi.

“Mendidik di sini, berbeda dengan di perkotaan. Kami membiasakan pembelajaran interaktif. Menjadikan siswa layaknya seperti sahabat. Selalu sharing dan diskusi,” terangnya.

Ibu dari Khairina Aulia P ini menerangkan, dengan menjadikan siswa sahabat, mereka makin senang belajar. Bahkan, mereka selalu datang lebih awal dari gurunya.

“Maklum, bila hujan lebat kami terkadang harus rela menunggu dan jalan agak pelan kerena takut terpeleset karena di kanan-kiri jalan yang dilalui ada tebing yang curam. Jika kami datang mereka langsung menyerbu tangan kami. Satu-per satu menyalami. Ini yang membuat kami betah di sini, siswa di sini sangat santun,” pungkasnya. (wan/ast)

Petani Tembakau Mulai Resah

Penulis : Dimaz Bromo FM
Sabtu, 27/08/2016

KREJENGAN - Wacana kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus, meresahkan petani tembakau di Kabupaten Probolinggo. Pasalnya, harga jual tembakau saat ini terbilang murah. Selain menolak, mereka meminta harga jual tembakau naik, sehingga nantinya sebanding dengan harga rokok.

Panen raya tembakau tahun ini tidak membuat petani disejumlah wilayah Kabupaten Probolinggo sumringah, pasalnya harga jual tembakau sangat murah.

Seperti yang dirasakan sejumlah petani di Desa Sokaan Kecamatan Krejengan. Sejak panen pertama hingga memasuki panen kedua, harga tembakau mereka paling mahal hanya dihargai Rp 25.000 per kilogram. “Bahkan ada yang hanya dihargai Rp 15 ribu. Ya rugi besar, kalau harganya segini,” ungkap salah satu petani Martaji

Kisaran harga itu diakui petani tidak cukup menutupi biaya tanam yang mencapai Rp 10 juta per hektar lahan. Padahal kualitas daun tembakau lebih bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Keresahan petani bertambah dengan wacana kenaikan harga rokok dikisaran Rp 50 ribu. Tidak hanya menolak, petani juga geram karena harga rokok tidak sebanding dengan harga jual tembakau.

Idealnya, harga tembakau minimal Rp 50 ribu per kilogram. Jika harga jual tembakau setara dengan harga beli rokok, maka petani tidak keberatan harga rokok melonjak menjadi Rp 50 ribu per bungkus.

“Kalau harganya sama dengan harga tembakau rajangan ya tidak apa-apa harga rokoknya juga naik. Tapi yang santer diberitakan, yang naik bukan harga tembakaunya tapi pajak atau cukainya,” kata Santoso, pemilik lahan tanaman tembakau.

Petani menuding, wacana kenaikan harga rokok hanya ulah spekulan dan pabrik rokok yang ingin mengeruk keuntungan berlipat.

Kabupaten Probolinggo selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil tembakau terbesar di tanah air dengan hasil produksi sekitar 12.900 ton per tahun dari 10.774 hektar lahan. (maz/ast)

Pemkab Latih KHA

Penulis : Wawan Bromo FM
Sabtu, 27/08/2016

DRINGU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB), Jum’at (26/8/2016) memberikan pelatihan Konvensi Hak Anak (KHA). Pelatihan ini diikuti oleh 40 orang peserta dari Kepala Puskesmas dan Ketua Bidang Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak.

Sekretaris BPPKB Kabupaten Probolinggo Hasin mengatakan pelatihan KHA ini bertujuan meningkatkan kemampuan dan pemahaman dalam melakukan KHA serta implementasi kebijakan pengembangan Kabupaten Layak Anak, khususnya Puskesmas Ramah Anak (PRA).

“Selain itu, mempercepat upaya pemenuhan hak dan perlindungan anak melalui penyelenggaraan Puskesmas Ramah Anak,” katanya.

Sementara Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo Asy’ari mengungkapkan KHA merupakan salah satu instrument internasional yang menjiwai berbagai kebijakan dan program pemenuhan hak-hak anak dan perlindungan anak.

“Setelah 20 tahun ratifikasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia, sosialisasi mengenai KHA tetap menjadi prioritas dan tanggung jawab pemerintah dalam rangka menumbuhkembangkan kesadaran akan pentingnya hak-hak anak bagi semua pihak,” katanya.

Menurut Asy’ari, pelatihan KHA ini dilaksanakan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas dan sensitifitasnya (kepekaan) tentang hak-hak anak dalam pemenuhan hak kesehatan, sebagaimana indikator kabupaten/kota layak anak pada penguatan kelembagaan nomor urut 3 jumlah SDM yang terlatih KHA. “Tenaga kesehatan harus memahami hak anak, prinsip pemenuhan hak anak serta kebutuhan khusus anak secara mendalam,” tegasnya. (y0n/ast)

Serapan Gabah Bulog Turun 30 Persen

Penulis : Dimaz Bromo FM
Jumat, 26/08/2016

PAJARAKAN - Cuaca buruk yang menimpa sejumlah wilayah di Kabupaten Probolinggo, berdampak pada produksi gabah. Hasil panen petani menurun, lantaran tanaman padi roboh diterpa angin kencang. Akibatnya serapan gabah oleh Badan Urusan Logisitik (Bulog) turun hingga 30 persen.

Dampak cuaca buruk di wilayah Kabupaten Probolinggo, salah satunya dirasakan Supa’i, petani padi asal Desa Sukomulyo Kecamatan Pajarakan. Mayoritas tanaman padi milik petani berusia 40 tahun di lahan seluas 1 hektar roboh, lantaran diterpa angin kencang dan hujan.

Batang tanaman yang roboh membuat bulir padi rusak bahkan gabug atau hampa tanpa beras. Padahal tidak sampai sepekan lagi padi dipanen. Tidak hanya milik Supa’i, kerusakan juga menimpa ratusan hektar lahan tanaman padi milik petani lainnya.

Kondisi ini berdampak pada jumlah dan kualitas gabah hasil panen. Dalam 1 hektar lahan, rata-rata menghasilkan 8 hingga 10 ton, namun panen kali ini maksimal hanya 5 ton saja.

Agar tidak menderita kerugian, petani menjual gabah kering pungut ke tengkulak atau penggilingan padi dengan harga Rp 4.200 per kilogram. Harga ini lebih mahal Rp 500 dibandingkan dengan harga beli Bulog yang hanya sebesar Rp 3.700 per kilogram. “Kami jual ke tengkulak atau selep saja, lebh mahal dan gak ribet,” ujar Supa’i, Kamis (25/8/2016).

Penjualan gabah kering petani ke tengkulak berimbas pada stok gabah di gudang Bulog. Sampai Kamis ini, Bulog baru menyerap 43.000 ton gabah setara beras atau turun 30 persen dibandingkan saat masa panen pertama periode Februari – Maret 2016.

“Pembelian kami pada masa panen kedua ini menurun. Untuk harga pembelian merupakan wewenang pemerintah, Bulog hanya sebagai operator,” kata Kepala Perum Bulog Sub Drive VIII Probolinggo Irsan Nasution.

Saat ini, stok gabah kering aman untuk suplai beras hingga April 2017. Namun besarnya distribusi gabah ditingkat tengkulak dikhawatirkan memicu kenaikan harga beras, utamanya menjelang hari raya Idul Adha. (maz/ast)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger