Headlines News :
Powered by Blogger.

Bagian Kominfo Kab. Probolinggo

Popular Posts

Imunisasi Efektif Cegah Penyakit Polio

Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 07/02/2016

KRAKSAAN – Imunisasi merupakan upaya yang terbukti sangat efektif dalam mencegah penyakit polio. Menyikapi hal itu, secara nasional akan dilakukan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio serentak, 8-15 Maret mendatang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari penandatanganan kesepakatan pemberantasan polio di seluruh dunia. “Kegiatannya meliputi PIN Polio serta penggantian vaksin polio tOPV menjadi bOPV berlaku 4 April 2016. Selanjutnya diberlakukan injeksi IPV pada bulan Juli 2016,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo dr Shodiq Tjahjono melalui Kasi Pencegahan dan Pengamatan Penyakit Seneman.

Menurut Seneman, setelah kegiatan PIN polio, nantinya vaksin tOPV akan ditarik dan dimusnahkan. Karena itu diharapkan di wilayah Indonesia dan dunia pada umumnya tidak muncul lagi penyakit polio liar.

“Harapannya semua warga masyarakat yang mempunyai anak usia 0 hingga di bawah 5 tahun agar dibawa ke Posyandu terdekat atau Pos PIN yang disediakan oleh Puskesmas. Berikan anaknya dua tetes vaksin polio,” jelasnya.

Seneman meminta agar masyarakat tidak khawatir karena imunisasi polio tidak memberikan dampak panas pada anak. Namun bila ada panas setelah imunisasi polio, diharapkan agar segera dibawa ke pos pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan selanjutnya karena ditakutkan ada penyakit lain yang masuk.

“Panasnya memang karena terbentuk sistem kekebalan tubuh. Hal itu wajar dan biasa. Biasanya saat imunisasi, petugas akan memberikan obat penurun panas untuk dibawa pulang,” terangnya.

Banyak manfaat yang didapat dengan mengikuti PIN polio. Yakni anak akan memiliki kekebalan tubuh dari serangan penyakit polio. Sebab jika tidak ikut PIN, kekebalan akan menurun dan bisa terserang penyakit polio. “Akibatnya bisa sakit, cacat dan menimbulkan kematian,” pungkasnya. (wan/abh)

Kiai Maksar-Ali Wafa Kembali Pimpin MWCNU Sukapura

Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 07/02/2016

SUKAPURA – KH Maksar dan Ali Wafa kembali dipercaya sebagai Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Sukapura masa khidmat 2016-2021 dalam Konferensi MWCNU Sukapura, Sabtu (6/2/2016).

Konferensi MWCNU Sukapura dilaksanakan secara sederhana. Pasalnya di Kecamatan Sukapura umat Islam hidup rukun dengan masyarakat Hindu Tengger. Dari 12 desa yang ada, hanya 7 desa saja yang ada kepengurusan ranting NU. Hal ini dikarenakan 5 desa lainnya mayoritas beragama Hindu Tengger.

Camat Sukapura Bambang Julius Wijanarko mengatakan Kecamatan Sukapura merupakan kecamatan yang terdapat 5 pemeluk agama. Namuan demikian kerukunan umat beragama begitu tinggi. “Ketika peringatan Maulid Nabi dilaksanakan di kantor kecamatan, hadir lengkap dari 5 agama,” katanya.

Sementara Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Sukapura Ali Wafa mengatakan menjadi pengurus di Kecamatan Sukapura memang sangat berat, karena medan dan alat komunikasi yang sering tidak ada signal serta keterbatasan SDM pengurus. Dan yang lebih utama menjaga agar tidak terjadi ketersinggungan dengan masyarakat Hindu Tengger.

“Dalam upayanya selama ini NU Sukapura sudah berhasil mendirikan Desa Al Qur'an di tengah-tengah masyarakat Hindu Tengger di Desa Wonokerto Kecamatan Sukapura tanpa ada pergesekan sedikipun dengan penduduk desa yang beragama Hindu,” ujarnya.

Kedepan Ali Wafa berharap, adanya kegiatan keagamaan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang marak dan humanis terhadap pemeluk agama lain, mengingat Sukapura sebagai daerah adat Hindu, destinasi wisata dan barometer kerukunan umat beragama di Kabupaten Probolinggo.

“Kami akan tetap berupaya agar NU bisa selalu tampil didepan dalam rangka menghidupkan kerukunan umat beragama dalam kontek NKRI. Disamping juga berupaya meletakkan Islam sebagai agama melekat dihati para pemeluknya. Bukan hanya melekat dan ada pada teks-teks suci, tapi Islam sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat serta menjadi tradisi dan nafas para pemeluknya,” pungkasnya. (wan/abh)

Liburan Imlek, Wisata Gunung Bromo Dipadati Pengunjung

Penulis : Wawan Bromo FM
Minggu, 07/02/2016

SUKAPURA - Liburan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek kali ini, wisata Gunung Bromo di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo mulai penuh dipadati oleh wisatawan lokal maupun asing. Meskipun kondisi tersebut tidak seramai liburan pada saat hari-hari liburan sebelum erupsi.

Meski hingga saat ini kepulan asap kelabu pekat kadang putih tipis terus menerus keluar dari kawah gunung Bromo dengan mengeluarkan suara gemuruh dan dentuman. Terkadang hal itu juga membuat wisatawan ketakutan untuk berkunjung ke salah satu gunung tercantik didunia ini.

Liburan long weekend tahun baru Imlek 2567 masehi ini, kebanyakan wisatawan berkunjung ingin melihat langsung fenomena alam erupsi Gunung api Bromo yang hanya terjadi 5 tahun sekali.

Meski sedikit kecewa dibatasi dengan jarak aman radius 2,5 kilometer dan dilarang turun ke lautan pasir dan kawah oleh petugas terkait, namun keindahan panorama alam dan semburan asap vulkanis tersebut menutup kekecewaan para wisatawan.

Menurut Evi, wisatawan asal Jakarta, view erupsi Gunung Bromo masih bagus dan sangat menarit untuk di kunjungi, meski sedikit kecewa tidak bisa ke kaldera Bromo. “Kita masih survey lokasi, karena mau ada acara reuni yang digelar di Gunung Bromo. Untuk view masih bagus, namun sedikit kecewa wisatawan tidak boleh turun ke kaldera,” ujarnya, Minggu (7/2/2016).

Hal senada juga dirasakan Mutia yang mengaku sangat seru meski sedikit was-was dengan suara gemuruh dari kawah, karena penasaran bagaimana erupsi gunung api melihat secara langsung. “Sangat seru melihat semburan asap dari kawah, meski sedikit takut. Tapi jarak aman kita patuhi, penasaran dengan erupsi Bromo,” sebutnya.

Petugas PVMBG Gunung api Bromo menghimbau kepada para pengunjung Gunung Bromo supaya jangan melanggar aturan dan mematuhi himbauan petugas, dengan jarak aman radius 2,5 kilometer, agar peristiwa tahun 2004 yang menewaskan 2 wisatawan tidak terjadi lagi. (wan/abh)

PKL Semarak Mulai Direlokasi Maret Mendatang

Penulis : Dimaz Bromo FM
Minggu, 07/02/2016

KRAKSAAN - Pedagang Kaki Lima (PKL) Semarak Kota Kraksaan paling lambat akan dipindah Maret mendatang. Ke-36 PKL yang berada di sisi selatan alun-alun tersebut sementara akan menempati sisi timur alun-alun, sembari menunggu tempat relokasi permanen.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolinggo M. Sidik Widjanarko mengungkapkan sebelumnya memang Bupati Probolinggo belum merekemondasikan untuk tempat relokasi sementara. Namun pekan lalu, pihaknya mendapatkan lampu hijau agar PKL Semarak di sisi selatan alun-alun segera dipindahkan ke sisi timur alun-alun. “Catatannya,  relokasi ini bersifat sementara,” katanya.

Pemindahan 36 PKL tersebut bukannya tanpa alasan, pasalnya sejak tahun 2015 lalu Alun-alun Kota Kraksaan diperbaiki. Salah satu yang sudah dilakukan adalah pemasangan videotron berukuran besar yang menghadap ke selatan dan ke utara. Selain itu, tulisan Kraksaan berukuran raksasa tepat berada di depan videotron tersebut. Dimana tulisannya tepat berada di belakang PKL.

Dengan kondisi tersebut, mau tidak mau PKL harus dipindahkan. Tempat sementara yang diputuskan Pemkab Probolinggo adalah di sisi timur. “Dengan relokasi PKL ini diharapkan tidak akan mengganggu pembangunan Alun-alun Kraksaan, seperti air mancur yang akan dibangun dari depan (sisi selatan, red),” ujarnya.

Sesuai petunjuk Bupati Probolinggo, paling lambat relokasi itu akan dilaksanakan pada Maret mendatang. “Relokasinya dilakukan paling lambat Maret mendatang. Hal itu disampaikan Bupati saat peresmian pasar tradisional di Pasar Condong,” jelasnya.

Ada alasan lain kenapa bulan Maret harus dipindah jelas Sidik, salah satunya karena sampai saat ini pihaknya masih dalam proses pemesanan tenda. Selain itu, Disperindag sendiri masih dalam proses penghitungan tempat.

“Sebelum kami relokasi, tentu kami akan ukur dulu. Apakah kalau ditempatkan di sebelah timur sudah cukup? Kalau misalkan tidak cukup solusinya bagaimana? Apakah ada yang menghadap selatan utara atau bagaimana, yang terpenting relokasi itu semua pedagang mendapatkan tempat dengan ukuran yang sama,” terangnya.

Untuk 36 tenda yang akan dipesan pada pihak ketiga tersebut, Disperindag akan menyiapkan anggaran sekitar Rp 40 juta. Dengan adanya tenda yang baru, Sidik berharap PKL Semarak lebih rapi. “Saluran airnya tidak ada yang meluber, hal lainnya tentu lebih bersih dan tidak berbau. Setidaknya bisa mencontoh PKL di Alun-alun Kota Probolinggo,” tambahnya.

Sejauh ini Sidik mengaku sudah mensosialisasikan kepada para pedagang. Kemudian hal yang paling penting dari itu semua Disperindag melarang para PKL memindahtangankan kepada orang lain. “Tidak boleh dipindahkan tangankan. Kalau memang tidak dipakai, harus kembali ke Camat,” ucapnya.

Setelah relokasi tersebut rampung dilaksanakan, paling tidak akan bertahan selama setahun. “Dalam waktu itu kami juga akan melakukan kajian tempat yang tepat untuk relokasi permanen, apakah akan ditempatkan di Sumber Lele Park atau Stadion Gelora Merdeka,” ungkapnya.

Sementara Camat Kraksaan Sugeng Wiyanto mengungkapkan relokasi tersebut hanya menunggu pelaksanaan. Sebab PKL Semarak sudah menerima terhadap tempat relokasi sementara. “Semuanya sudah siap, mereka sudah sanggup dan mau. Karena memang kami sudah sampaikan kepada mereka bahwasannya kebijakan ini untuk kepentingan bersama. Semuanya klir dan tidak ada masalah, karena pada dasarnya pembangunan apapun harus didukung,” tandasnya. (maz/abh)

Abu Vulkanik Bromo Ganggu Pasokan Listrik

Penulis : Dimaz Bromo FM
Minggu, 07/02/2016

SUKAPURA - Warga sejumlah desa di lereng Gunung Bromo tidak dapat lagi menikmati aliran listrik. Pasokan listrik lumpuh pasca kabel dan tiang tertimbun abu vulkanis Gunung Bromo. Sejauh ini, proses perbaikan terus dilakukan.

Sejak beberapa hari  terakhir, warga suku Tengger di lereng Gunung Bromo tidak dapat menikmati aliran listrik. Terdapat sedikitnya 10 desa dari radius 15 kilometer Gunung Bromo gelap gulita tanpa aliran listrik. Dimulai dari Desa Sapikerep hingga Dusun Cemoro Lawang Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura.

Derita warga semakin bertambah, padahal sebelumnya mereka telah dibuat frustasi oleh hujan abu vulkanis berkepanjangan dari erupsi Gunung Bromo. Meski demikian, warga memilih pasrah menunggu perbaikan dari PLN Distribusi Probolinggo.

“Mau bagaimana lagi, kami hanya terpaksa bisa menunggu saja. Meskipun harus hidup dalam kegelapan setiap malamnya,” ungkap warga Desa Sapikerep Kecamatan Sukapura Sugiono, Minggu (7/2/2016).

Aliran listrik terputus karena isolator pada kabel dan tiang listrik berubah menjadi konduktor pasca tertimbun abu vulkanis, sehingga terjadi arus pendek. Sejauh ini, proses perbaikan tengah dilakukan oleh PLN Distribusi Probolinggo. Tiga regu sekaligus diterjunkan secara paralel guna mengecek aliran listrik di sepanjang jalur wisata lereng Bromo. Dalam dua hari kedepan ditargetkan pasokan energi listrik sudah kembali pulih.

“Kami harus satu persatu mengecek dan membersihkan tiang. Hal itu untuk menormalkan aliran arus listrik,” terang Asmen PLN Distribusi Pasuruan – Probolingo Herastopo Yuli Prasetya. (maz/abh)

Usulkan Pelebaran Jalan Nasional Probolinggo-Kraksaan

Penulis : Dimaz Bromo FM
Minggu, 07/02/2016

KRAKSAAN - Kepadatan arus lalu lintas jalan nasional di Jalur Probolinggo-Kraksaan menjadi perhatian serius anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Mahdi. Oleh karenanya, pihaknya akan mengusulkan jalan tersebut untuk dilebarkan.

Dari pantauan di sepanjang jalur Probolinggo-Kraksaan, jalur tersebut bisa dikatakan jalur sibuk yang baru. Terlebih, kemacetan tersebut mencapai puncaknya saat jam berangkat kerja dan berangkat sekolah. Meski tidak sampai macet total, tapi dengan kepadatan kendaraan membuat arus lalu lintas berjalan lamban.

Bahkan untuk mengurai kemacetan, di sejumlah titik dipasang lampun trafic light. Seperti di pertigaan kampus Universitas Panca Marga Probolinggo di Kecamatan Dringu. Namun pengoperasian lampu tersebut hanya aktif saat jam sibuk, seperti dipagi hari, siang hari hingga jam 7 malam.

Sementara anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Mahdi mengatakan, memang ruas jalan Probolinggo-Kraksaan perlu adanya pelebaran. Hal itu bukannya tanpa alasan, sebab pada jam-jam tertentu, seperti jam masuk sekolah dan jam masuk kantor dipastikan jalan tersebut akan macet. Salah satu titik kemacetannya berada di sepanjang Jalan Raya Dringu, Klaseman, Pertigaan Pajarakan dan Kota Kraksaan. “Artinya sudah saatnya memang jalan itu dilebarkan,” ujarnya.

Oleh karenanya, ia akan mengusulkan hal tersebut pada Balai Besar V Jalan Nasional agar akses jalannya sama dengan akses jalan Probolinggo-Pasuruan. “Ketika nanti ke Jakarta, pasti kami akan sampaikan, mudah-mudahan segera terealisasi. Karena sampai sekarang untuk informasi jalan itu kami belum dengar, kemudian memang di Pemerintah Pusat penganggarannya sampai sekarang masih belum rampung, mudah-mudahan saja ada anggarannya,” jelasnya.

Meski demikian menurut Mahdi, pelebaran jalan tersebut tetap dilakukan secara bertahap, seperti yang dilakukan pada tahun 2015 kemarin. Di sejumlah titik mulai dilakukan pembangunan pelengsengan, pelebaran jembatan hingga peningkatan jalan sudah dilaksanakan. “Buktinya di sejumlah titik sudah dilakukan pembangunan, harapan kami tahun ini akan dilanjutkan,” tandasnya.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bina Marga Kabupaten Probolinggo Rachmad Waluyo mengatakan sejauh ini jalan tersebut merupakan kewenangan dari Balai Besar V Jalan Nasional. “Jadi bukan kewenangan kami, sehingga kapan dan bagaimana proses selanjutnya kami juga belum tahu,” ungkapnya. (maz/abh)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger