Headlines News :
Diberdayakan oleh Blogger.

Bagian Kominfo Kab. Probolinggo

Popular Posts

Bubuk Mesiu Membawa Petaka

Dicko : BromoFM
Rabu 01/10/2014 , 10 : 00 WIB


KREJENGAN – Sugianto (50) asal Desa Karangren, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, tewas setelah mengalami luka bakar dan luka robek disekujur tubuhnya, akibat ledakan bubuk mesiu yang diracik di dapurnya. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. Bahkan, korban tidak hanya mengalami luka bakar dan luka robek saja, melainkan kaki kiri korban  hilang dilokasi kejadian.

Ledakan tersebut bukan hanya Sugianto yang menjadi korban, akan tetapi istrinya Jama’ah (45) juga terkena imbasnya dengan luka yang cukup parah, ia langsung dirawat di IGD Waluyo Jati Kraksaan dengan luka robek dan luka bakar. Sedangkan Sugianto langsung di otopsi diruang jenazah.

Menurut Abd. Gani (60) kakak korban, bahwa Sugianto (korban) 29 hari lagi mempunyai hajatan, ia meracik mesiu untuk petasan dihajatannya nanti. “Saya tidak tahu pasti kejadiannya seperti apa, karena saya tinggal sekitar 500 meter dari adik saya Sugianto,”ujar Gani.
 

Sementara itu, Indriasih (39) putri pertama dari korban mengaku, kalau dirinya tidak menyangka bunyi ledakan berasal dari rumah ayahnya,”rumah saya sekitar 500 meter dari rumah bapak, warga disekitar ruamah saya, termasuk keluarga saya sendiri mendengar suara ledakan itu begitu sangat menggoncang dan sangat keras,”tutur Indriasih.

Menurutnya, korban baru kali pertama membuat petasan untuk acara hajatannya, korban sengaja meracik mesiu itu diruang dapurnya, sementara di dapur itu Jama’ah (istrinya) sweang memasak. “Untung ibu selamat, ledakannya luar biasa mas, dengan jarak sekitar 500 meter baunyinya masih dahsyat, mungkin ini adalah nasib bapak saya,” tukas Indriasih.

Pantauan dilokasi, kaki kiri korban yang hilang ditemukan warga di tempat ledakan sekitar pukul 11.00 WIB. Pada saat itu warga melakukan pencarian bersama. Kondisi rumah korbanpun hancur berantakan, semua bahan kaca didalamnya hancur, termasuk dapurnya. Dirumah korban langsung dipasang Police line oleh petugas identifikasi dari Polres Probolinggo saat melakukan olah TKP (Tempat Kejadian Perkara).(dc/fir)

Kapolres : Saya Minta Maaf

Dicko : BromoFM
Selasa 30/09/2014. 15:00 WIB

PROBOLINGGO - Selang beberapa jam, Dari tindakan pemboikotan peliputan  yang dilakukan sejumlah awak media atas pernyataan yang disampaikan Kasat Reskrim Polres Probolinggo.

AKBP Endar Priantoto Kapolres setempat, menyesali atas pernyataan yang di sampaikan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) AKP Roy Sastroprawiro.

Menurutnya, Pernyataan yang mengecewakan sejumlah wartawan itu bukan pernyataan seorang Kepala Satuan di Polres Probolinggo. Namun, pernyataan seorang oknum.

“Anggap saja, itu pernyataan komentar seorang oknum dan bukan kepala satuan,”ujar Kapolres Probolinggo Selasa (30/9) sore.

Bahkan, Kapolres Probolinggo langsung meminta maaf pada wartawan melalui sambungan selulernya atas kejadian tersebut.

“Nantinya, jika ada kegiatan serupa (Press Rilis), akan Dilakukan kordinasi dengan baik, agar tidak terjadi salah paham lagi,”pungkasnya.

Di beritakan sebelumnya, Sejumlah wartawan media cetak maupun elektronik, lakukan aksi baikot dan memilih meninggalkan kegiatan press rilis yang diadakan Polres Probolinggo.

Aksi tersebut di lakukan, karena para wartawan merasa dilecehkan atas pernyataan Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) yang menolak permintaan awak media untuk menggelar kegiatan press rilis dibagi menjadi dua angel.

Press Rilis ini, meliputi beberapa pengungkapan kasus yakni kasus tentang narkoba, Judi Togel, Uang Palsu dan sindikat penggelapan rental mobil di wilayah Hukum Polres Probolinggo.

Saat itu, Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Roy Prawirosastro mengungkapkan, kalau kasus yang terjadi di Probolinggo tidak perlu di ekspos di media. “Sebenarnya, kasus ini tidak perlu di Ekspos (di terbitkan di media),”ujar Kasat Reskrim.(fly/dc)

Kerja Sambil Kuliah

Dicko : BromoFM
Senin 29/09/2014 , 09 : 00 WIB 


Bekerja itu penting, apalagi jika berani kerja dengan cara professional, atau disebut sebagai seorang pekerja dengan usia muda yang ingin benar-benar meniti kariernya kejenjang yang lebih jauh lagi. Demikian yang diungkapkan oleh Khusnul Hotimah, perempuan muda asal Kelurahan Triwung kidul, Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo ini.Namun, bukan berarti yang penting itu tidak ada efek bagi yang lainnya meski sebagai seorang perempuan.

Meski saat ini dirinya bekerja sebagai staf umum di DPRD Kabupaten Probolinggo, dirinya masih sangat optimis untuk meniti kariernya sambil berkuliah. Menurutnya, dengan catatan membuat komitmen pada dirinya terlebih dulu, sebagaimana kalau kuliahnya tidak akan terbengkalai jika sedang bekerja, bagitu sebaliknya.

“Manfaat dari kuliah sambil bekerja sangat banyak menurut saya, pertama kita mendapatkan pengalaman dan ilmu yang lebih banyak. Selain itu kita menjadi bisa menghargai waktu dan menghargai orang lain. Dan menambah banyak teman yang apabila banyak teman itu akan memudahkan kita untuk di kenal banyak orang, serta memperluas jaringan kita,” kata perempuan yang akrab disapa Khusnul ini.

Khusnul yang masih menempuh kuliah di UPM (Universitas Panca Marga) Probolinggo ini mengaku, dengan bekerja sambil kuliah, bisa mempunyai penghasilan sendiri dari pekerjaan kita. Bahkan disisi lain banyak manfaatnya. Kuliah sambil Kerja juga mempunyai resiko-resiko.

“Resikonya adalah jika komitmen kita tidak kuat bisa-bisa kuliah kita akan terabaikan,karena menurut yang pernah saya rasakan, saya merasa nyaman dan lebih senang bekerja dari pada kuliah. salah satunya karena tidak perlu memikirkan tugas-tugas dari dosen. Dari itu kita harus mampu mengkondisikan, sebagai mana pekerjaan dan kuliah saling mensuport,” kata Khusnul yang saat ini kuliahnya masih smester empat jurusan Sosial Politik (Sospol) ini.

Perempuan kelahiran Probolinggo 5 Mei 1991 ini menambahkan, Kerja sambil kuliah bukan perkara mudah terutama jika sudah membahas masalah waktu. Waktu antara bekerja dan kuliah sebisa mungkin jangan sampai bentrok, “tapi ya namanya kita kerja pasti ada saja kejadian kita harus lembur dan mengorbankan waktu kuliah kita. Maka apabila kita sudah komitmen ingin kerja dan kuliah kita harus bisa mengatur dan membagi waktu untuk keduanya,”urai Khusnul alumni dari SMAN Kota Probolinggo ini.(dc/fir)



Meski Kondisi Hamil Tetap Antusias Mengikuti Ajang Fashion Show

Dicko : BromoFM
Senin 29/09/2014 , 08 : 00 WIB


Ajang Fashion Show yang digelar di Mapolres Probolinggo pada Sabtu (27/9/14) menyedot perhatian penonton setelah salah satu pesertanya tampil percaya diri dan semangat meski dalam kondisi hamil 6 bulan.

Bagi Brigadir Reny Antasari salah satu Polwan di Polres Probolinggo yang didampingi sang suaminya Brigpol Ari Wijoyo yang juga merupakan anggota kepolisian dari Polres Probolinggo ini tampak sangat antusias ketika mengikuti perlombaan Fashion Show yang diselegagarakan oleh Polres Probolinggo dalam rangka HUT HKGB (Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari) ke-62. Acara tersebut diikuti khusus para Polisi dan istrinya, baegitu juga para Polwan yang tampil bersama suaminya.

Tampak diatas Catwalk, Reny dan Ari Wijoyo yang berdomisili di Kota Probolinggo ini memakai batik berwarna merah, ia tampil memukau memperagakan seorang kekasih yang seakan-akan tak akan pernah lepas. Penampilannya berhasil mengundang perhatian para dewan juri dan penonton yang berada di bawah panggung. Sebab, peserta yang satu ini bisa dibilang peserta yang unik dibandingkan dengan peserta lainnya, pasalnya, hanya satunya-satunya Polwan Reny yang tergolong peserta hamil dalam ajang Fashion itu.

Pasangan suami istri ini tidak kalah menariknya dari peserta lainnya saat berakting di Catwalk, meski terlihat perut yang mulai membuncit, namun Reny begitu lincahnya memainkan gaya busananya, dengan lenggak lenggok seakan-akan tidak mempuyai beban diperutnya. Akting yang ditampilkan bersama suaminya itu sangat kompak, seolah-olah pasangan Fashion Show profesional.

Perempuan kelahiran Probolinggo 19 Pebruari 1983 ini mengaku, dirinya sebelum menjadi Polwan memang sudah gemar melihat acara-acara Fashion, tapi semua itu hanyalah kegemaran saja, tidak mungkin dirinya tampil sebagai model Fashion. Apalagi setelah menjadi Polwan.”Nah, dalam kesempatan ini saya ada kesempatan untuk mengikuti lomba Fashion, saya dan suami melakukan akting semaksimal mungkin meski secara autodidak,”aku Reny.

Perempuan yang sudah dikaruniai tiga orang putra termasuk janin yang dikandungnya saat ini mengatakan, gaya yang yang ia tampilkan di atas Catwalk merupakan salah satu gerakan senam yang berfungsi untuk kesehatan dirinya dan janinnya.

Akting yang ditampilkan tak kalah menarik meski ia dan suaminya itu belajar dalam hitungan jam saja, bahkan pada ujung aktingnya diatas Catwalk, Ari Wijoyo langsung mencium perut Reny, ia menunjukan kasih sayangnya kepada bayi yang dikandungnya, saat itu pula seluruh penonton menaruh rasa haru dengan penampilannya di ajang Fashion itu.

“Saya belajar sekitar tiga jam saja kemarin, satu hari sebelum kegiatan. Awalnya saat naik ke panggung saya gerogi, takut tidak kompak dengan suami. Karena belajarnya hanya sebentar dan tidak jauh dari lupa, dan belajarnya tanpa bantuan orang lain,”ujarnya.

Menurut perempuan yang sudah menikah sejak 2006 silam ini, meski dalam kondisi hamil, semua itu tidak menjadi kendala, sebab, dirinya ingin menampilkan yang terbaik untuk mencapai hasil yang optimal meskipun dirinya tampil sebagai model busana baru kali pertama.

“Selain saya ingin mendapatkan nilai yang bagus, selain itu saya beserta suami  sangat mengapresiasi dan mensuport kegiatan ini, semoga adanya kegiatan ini cukup bermanfaat untuk Polri dan masyarakat di Kabupaten Probolinggo,”tambah Reny.(dc/fir)


Fashion Show Ala Polisi

Dicko : BromoFM
Sabtu 27/09/2014. 11:00 WIB


KRAKSAAN - Tanpa ada sedikit rasa malu serta tampil percaya diri, para anggota Polisi dan para istrinya dari Satuan Polres Probolinggo berlenggak lenggok di atas catwalk.

Acara yang dipusatkan di belakang Mapolres Probolinggo pada Sabtu (27/9/14), dalam rangka memperingati HUT HKGB (Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari) ke-62 bersama pengurus cabang Bhayangkari Probolinggo dengan diwarnai berbagai macam kegiatan, termasuk Fashion Show.

Peserta Fashion Show mengenakan baju khas Daerah Probolinggo, yakni batik tulis dengan motif mangga yang menjadi Icon Daerah Kabupaten Probolinggo.

Acara Fashion Show ini diikuti oleh Polisi dari berbagai tingkatan, baik para anggota, Kapolsek dan istri, mereka masing-masing berjalan berpasangan di atas Catwalk layaknya seorang model professional.
Untuk menarik perhatian, bahkan para peserta tidak segan- segan melakukan adegan mesra dengan pasangannya di atas panggung.

Salah seorang peserta, AKP Kukuh junar mengatakan, ia dan isterinya baru kali ini mengikuti acara Fashion Show, meskipun agak canggung dan tergolong peserta yang paling berumur, ia dan istrinya tetap berusaha untuk menampilkan yang terbaik diatas panggung.

Para penoton yang cukup antusias menyaksikan kegiatan ini tak menyia-nyiakan moment yang ada. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengabadikan menggunakan kamera ponsel atau kamera pocketnya.

Sementara itu, Kapolres probolinggo AKBP Endar Priyantoro mengatakan, meski baru pertama kali tampil lenggak lenggok di atas catwalk namun para peserta ini tidak merasa grogi acara. Fashion Show ala anggota Polri ini merupakan bagian dari ajang silaturahmi antar anggota, akan tetap juga untuk menguji mental para anggota.

“Harapan semoga peringatan HKGB yang ke-62 dapat menjadi momentum yang berharga dalam meningkatkan eksistensi Organisasi Bhayangkari Cabang Probolinggo dalam mendukung keberhasilan tugas Polri sebagai penjaga kehidupan, pejuang kemanusiaan dan pembangun peradaban,”ujar Kapolres.(dc/fir)

Mayat Bayi Terbungkus Kain Merah

Dicko : BromoFM
Sabtu 27/09/2014. 10:00 WIB

GENDING – Banyak hal yang dilakukan untuk menutupi aib seseorang. Bahkan dengan cara apapun itu pastinya akan dilakukan. Namun, pepatah mengatakan, sepandainya tupai meloncat akan terjatuh juga. Seperti yang terjadi di pesisir Dusun Parsian, Desa Taman Sari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo Jum’at (26/9/2014) petang.

Sebuah insident yang menggegerkan warga setempat adalah penemuan sosok bayi perempuan di pinggir pantai. Mayat bayi malang yang diketemukan terbungkus kain warna merah itu diduga hasil hubungan gelap dari salah satu warga yang tak jauh dari lokasi.

Sejak peristiwa itu terjadi, membuat warga geger dan mempertanyakan si bayi malang  yang dikubur di pinggir pantai. Bahkan sampai berita ini ditulis warga dan pihak kepolisian kesulitan untuk melakukan penyelidikan, siapa orang tua bayi malang ini.

Sementara itu, Sudarto (45) warga setempat, yang merupakan penemu pertama mayat bayi mengatakan, awalnya dirinya tidak menyangka kalau ada mayat bayi setelah ia mencium bau tak sedap saat dirinya hendak membuang sampah. Menurutnya, semakin ia berjalan ke arah timur bau itu semakin menyengat.

“Saya berusaha mencari sumber bau itu, karena hati saya berkata tidak mungkin bau yang saya cium itu adalah bau binatang. Beberapa menit kemudian saya berhasil menemukan bau itu berupa mayat bayi,” jelas Sudarto sat diwawancarai sejumlah wartawan dilokasi

Mendapati mayat bayi, ia langsung memberitahunya ke kepala RT dan warga yang lain, agar semua warga bisa mengetahui kejadian itu.“Saya langsung riwa-riwi kerumah pak RT dan rumah warga,” sebutnya.
Seketika itu kabar penemuan itu lanfgsung menggoncang perbincangan warga, warga langsung berduyun mendatangi lokasi untuk mengetahui bayi malang yang dikubur.

Sabtu (27/9/14) sekitar pukul 10.30 WIB bagian identifikasi dari Polres Probolinggo langsung melakukan olah TKP. Setelah di diskusikan antara warga dan pihak kepolisian, mayat bayi malang akan dikubur di tempat pemakaman umum (TPU) di bukit bentar. Sementara ini, pihak kepolisian dan warga masih belum mengetahui usia bayi tersebut.(dc/fir)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | BromoTelecenter
Copyright © 2011. Bromo FM 92,3 MHz - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger